Perkembangan Moral dan Spiritual
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Nama: Nadia Arkiang
Prodi: PPKn.B
Mata Kuliah: Psikologi Pendidikan Dan Bimbingan
Perkembangan Moral Dan Spiritual
A. Definisi perkembangan moral dah spiritual
1. Perkembangan moral
Perkembangan moral memiliki dua dimensi: dimensi intrapersonal, yang mencakup nilai dasar dan makna diri seseorang, dan dimensi interpersonal, yang mencakup apa yang seharusnya dilakukan seseorang saat berinteraksi dengan orang lain (Zain, 2021).
Etimologi moral berasal dari kata latin mos, moris, yang berarti adat-istiadat, kebiasaan, cara, atau tingkah laku, dan mores, yang berarti tabiat, watak, atau akhlak. Menurut Runes (2022) secara terminologi, moral adalah hal yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma. Atkinson mengatakan moral adalah pandangan tentang apa yang baik dan buruk, benar dan salah, serta kemampuan dan kesalahan. Kemampuan untuk menerima dan menerapkan prinsip, nilai, dan aturan moral disebut moralitas.
Nilai-nilai moral, di sisi lain, bersifat sosial dan budaya dan berkaitan dengan bagaimana seseorang berperilaku baik dan tidak berperilaku jahat.
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi interaksi yang adil dengan orang lain.
Perkembangan moral dapat dikaji melalui tiga bahasan: kognitif, perilaku, dan emosional (Santrock, 2012).
》Menurut teori Piaget, ada dua tahap perkembangan moral, yaitu;
1. Moralitas heteronomous: tahap perkembangan awal (antara usia 4 dan 7 tahun) di mana seorang anak menganggap aturan dan keadilan sebagai hal yang tidak dapat diubah dan tidak dapat dikontrol.
2. Moralitas otonom: tahap kedua perkembangan, di atas 10 tahun, di mana anak mulai menyadari bahwa aturan dan hukum dibuat oleh individu dan bahwa niat dan konsekuensi tindakan diperlukan untuk pemikiran.
Kohllberg memperluas teori Piaget dengan mengatakan bahwa keadilan adalah inti dari perkembangan moral, yang terjadi sepanjang hidup seseorang. Tahapan perkembangan moral ditentukan oleh seberapa tinggi rendah moral seseorang (Kohlberg & Hersh, 1977).
》Menurut Kohlburg, perkembangan moral dibagi menjadi tiga tingkat, dengan dua tahap masing-masing:
1. Prakonvensional, Tidak Ada Internalisasi
a. Tahap orientasi kepatuhan dan hukuman: Anak membuat keputusan moral karena ketakutan akan hukuman.
b. Tahap orientasi minat pribadi: Anak mengejar kepentingannya sendiri tetapi membiarkan orang lain melakukan hal yang sama.
2. Konvensional, Internalisasi Pertengahan
a. Tahap orientasi keserasian interpersonal dan konformitas: orang menilai moral dengan percaya, perhatian, dan setia kepada orang lain.
b. Tahap orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan: pemahaman tentang aturan sosial, hukum, keadilan, dan kewajiban menentukan penilaian moral.
3. Pasca Konvensional, Internalisasi Penuh
a. Tahap orientasi kontrak sosial: individu menyadari bahwa nilai, hak, dan prinsip adalah dasar atau lebih penting daripada hukum.
b. Tahap orientasi prinsip etika universal: penilaian moral orang didasarkan pada hak asasi universal individu.
》Berikut ini adalah beberapa cara perkembangan moral anak:
1. Pendidikan langsung: memberi tahu siswa tentang tingkah laku yang baik dan salah yang ditunjukkan oleh orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya terhadap mereka.
2. Identifikasi—mengidentifikasi dan menunjukkan tingkah laku seseorang yang menjadi idolanya sesuai dengan standar dan etika yang baik.
3. Proses coba-coba, atau trial and error, yang berarti mencoba untuk mengembangkan tingkah laku moral. Tingkah laku dan tindakan yang menghasilkan pujian atau penghargaan akan terus berkembang, tetapi perilaku yang buruk segera dihentikan dan diganti dengan perilaku yang terpuji.
2. Pengertian Perkembangan Spiritual
Spirit, yang berasal dari kata latin "spiritus", yang berarti napas atau udara, memberikan hidup dan menjiwai seseorang.
Spiritual mencakup berbicara dengan Tuhan dan berusaha untuk bersatu dengan Dia. Percaya pada adanya kekuatan atau suatu yang lebih agung dari diri sendiri disebut spiritualitas. Karakteristik spiritual yang paling penting termasuk perasaan keseluruhan dan keselarasan seseorang dengan orang lain; kekuatan tertinggi adalah Tuhan Yang Maha Esa.
James Fowler menyatakan bahwa perkembangan spiritual tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan emosi dan kognitif.
Teorinya tentang perkembangan spiritual mencakup perkembangan kognitif, ketidaksadaran, kebutuhan, dan kemampuan seseorang. (Hawadi, 2022).
》Perkembangan spiritual menurut Fowler ada tujuh tahapan antara lain;
a. Kepercayaan dasar (usia 0-2 tahun), kepercayaan dasar kepercayaan yang tidak dapat diidentifikasi karena mereka tidak mengenal dan merasakan lingkungannya.
b. Intuitif-Projectif (2-4 tahun): menggabungkan fakta, fantasi, dan perasaan, fokus pada permukaan saja.
c. Kepercayaan Ilmiah Mitologis (5-11 tahun), memahami semua secara harfiah, konkrit, dan berpikir induktif.
d. Kepercayaan Tradisi Poetik (12-18 tahun): kepercayaan ini bergantung pada kumpulan pendapat orang lain dan pakar.
e. Individuasi Reflektif: Pada rentang usia 18 hingga 30 tahun, orang mulai bertanggung jawab atas kepercayaannya, perilaku, komitmen, dan gaya hidupnya, dan mereka membutuhkan contoh.
f. Kepercayaan Paradoxical-Consolidation: Pada usia tiga puluh hingga tiga puluh tahun, orang mulai memahami dan mengintegrasikan simbolisasi, ritual, dan kepercayaan, menimbulkan rasa kekeluargaan terhadap sesama.
g. Keyakinan Universalisasi, Orang yang berusia minimal 41 tahun memiliki pandangan tentang Tuhan yang transenden.
Perkembangan penghayatan keagamaan, perkembangan keyakinan, dan banyak aspek perkembangan lainnya terkait erat dengan perkembangan spiritual. Ini sejalan dengan penjelasan Abin Syamsuddin, yang menyatakan bahwa perkembangan perilaku sosial dan moral terkait dengan perkembangan perilaku keagamaan. Bahkan dijelaskan bahwa perkembangan moralitas terkait dengan perkembangan penghayatan keagamaan dan erat kaitannya dengan perkembangan intelektual, emosional, dan volisional (konatif). Manusia secara potensial (fitriah) adalah makhluk sosial (zoon politicon) dan beragama, yang menjadikan hal ini mungkin (Minarti, 2022).
Jadi, perkembangan spiritualitas adalah proses yang terus berubah dan berkembang. Dalam perkembangan anak, spiritualitas adalah perkembangan kesadaran tentang siapa diri kita, orang lain, lingkungan, dan alam semesta. Sementara perkembangan moral adalah perkembangan perilaku anak yang disebabkan oleh adat istiadat, kebiasaan, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok sosial mereka.
3. Ciri-ciri aspek moral-spiritual
a. Ciri-ciri aspek moral
1) Kesadaran akan benar dan salah
Kemampuan untuk membedakan antara Tindakan yang baik dan buruk, dan memiliki Kompas moral internal.
2) Orientasi sosial
Tindakan moral dibentuk dalam hubungan dengan sesama manusia, yang mempengaruhi pembentukan karakter dan perilaku sehari hari.
3) Tanggung jawab
Mampu membuat pilihan bebas dan sadar, serta bertanggung jawab atas tindakan dan dampaknya.
4) Berbuat baik
Menunjukan tindakan kebaikan, kepedulian, dan pengorbanan untuk kepentingan orang lain atau tujuan mulia.
5) Integritas
Memiliki kejujuran, kesetiaan dan komitmen pada nilai-nilai moral yang di Yakini.
b. Ciri-ciri aspek spiritual
1) Kesadaran diri
Kesadaran mendalam akan diri sndiri, nilai-nilai, dan motivasi pribadi.
1) Pencarian makna.
Upaya untuk menemukan tujuan dan makna dalam kehidupan.
2) Hubungan dengan tuhan.
Memiliki hubungan pribadi yang mendalam dan transformatif dengan tuhan yang maha esa.
3) Rasa Syukur
Kemampuan untuk merasa bersyukur atas segala hal yang dimiliki.
4) Kebijaksanaan dan etika.
Menggunakan nilai-nilai moral dan etika dalam membuat Keputusan dan melihat situasi dari berbagai perspektif.
5) Tahan menderita
Memiliki kemampuan untuk menghadapi dan bertahan dalam penderitaan secara wajar.
B. Perkembangan Moral-Spiritual Menurut Para Ahli Indonesia dan Ahli Internasional
》Menurut para ahli indonesia
1) Gusviani (2016): mengambarkan sikap spiritual sebagai kemampuan untuk memahami dan membedakan antara yang benar dan yang salah berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada tuhan yang maha esa.
2) Wiyani (2013): mengacu pada tahapan perkembanggan agama dan moral, yang meliputi 3 komponen yaitu kognitif, avektif, tindakan.
》Menurut para ahli internasional
1) Jean Piaget : mengembangkan teori perkembangan moral yang membaginya dua tahap utama yaitu tahap hetronom (moralitas paksaan) dan tahap otonom (moralitas kerja sama).
2) Laurence Kohlberg: menekankan perkembangan moral melalui tiga Tingkat penalaran, dengan setiap Tingkat memiliki dua tahap yaitu prakonvesional dan konvensional.
C. Contoh implikas aspek moral-spiritual dalam Pelajaran di sekolah/madrasah
Pengembangan karakter siswa menjadi pribadi yang berakhlak mulia, memiliki integritas, dan bertangung jawab,yang diwujutkan melalui teladan guru, pembiasaan sopan santun, integralisasi nilai agama dalam kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, serta pengenalan ajaran suci seperi Al-qur’an yang membentuk kesadaran spiritual siswa.
Komentar
Posting Komentar